Juergen Klopp, satu dari dua pelatih calon pengganti Wenger, selain itu ada nama Pep Guardiola, yang diinginkan oleh fans, bilamana ia pensiun atau mengundurkan diri atau dipecat. Namun sayang, keinginan tersebut tidak mungkin terjadi sebab kedua pelatih itu sudah magang di tim yang, justru menjadi pesaing berat Arsenal di EPL, Manchester City dan Liverpool.
Kecerdasan mantan pelatih Dortmund ini memang luar biasa, datang ke Anfield di pertengahan musim lalu membawakan The Reds ke final Europa League, ya walau kalah tetapi setidaknya cukup sukses berhubung ia cuma memainkan pemain sisa-sisa pelatih absurd itu yang sebelumnya.
Gegenpressing, menjadi strategi ampuh untuk mengalahkan lawan-lawannya. Arsene Wenger, contoh sederhana yang merasakannya pada pekan pertama Premier League musim ini. 3 goal pada babak kedua bersarang di gawang Petr Cech dalam kurun waktu kurang lebih 10 menit, cukup membuat saya sendiri, memberikan tepuk tangan yang meriah.
Tapi uniknya, kemenangan di Emirates Stadium tidak berlanjut ke partai Liverpool berikutnya menghadapi Burnley. Dan ini yang menjadi esensi utama saya ingin menertawakan mereka. Laga baru berjalan 3 menit, Coutinho cs sudah kebobolan terlebih dahulu. Saya kira, pada waktu itu, mereka akan kembali membalikan keadaan seperti halnya melawan The Gunners. Namun, melihat pertandingan tersebut, sebelum peluit babak pertama dibunyikan saya sudah memprediksi, Klopp akan terpleset, akan kalah dan itu terbukti.
Saya ingin menertawakan mereka lebih lanjut, terutama mengenai strategi gegenpressingnya yang gak jalan-jalan amat ketika menghadapi tim gurem macem Burnley dan sejenisnya. Itu terjadi berulang kali, sebelumnya mereka kalah 4 nol pada laga persahabatan melawan Mainz, padahal ketika menghadapi Barcelona, Liverpool menang 4 nol.
Apa sebetulnya yang terjadi pada club peraih tittle Liga Champions terbanyak di Liga Inggris sejak zaman kakek saya ini.
Menurut hemat saya, strategi Klopp banyak kelemahan. Ketika lawan bermain pragmatis, alot, itu, mereka sulit mengembangkan gegenpressingnya. Sehingga permainan terbawa suasana oleh musuh. Berbeda ketika melawan club yang notabennya bermain terbuka dan menyerang, mereka acapkali memenangkan pertandingan.
Saya sebagai fans Arsenal, tentu tidak takut mengatakan bahwa Liverpool club yang masih gitu-gitu saja. Sederhana, berani memprediksi kalau mereka akan menang bilamana melawan club semacam Manchester City atau United. Tetapi ketika menghadapi Watford, Soton, mengerutkan halis dan mengatakan akan kalah, akan saya lakukan.
Jadi imbasnya, kekalahan kemarin oleh Liverpool, tak dapat mengukuhkan hati saya kalau mereka tim hebat. Paling, bertepuk tangan beberapa menit saat mereka menang melawan tim besar akan saya lakukan.
Sebelum menonton pekan ketiga Liga Inggris. Saya akan menertawakan dahulu selama satu pekan ini guna mewakili fans Arsenal lainnya (itupun buat yang mau).
#COYG
