Tentang Stan Kroenke


Apa yang akan Anda ceritakan pertama kali tentang Arsenal ketika rekan-rekan di sekeliling Anda membahas seputar sepak bola. Alangkah baiknya, jadilah pendengar setia yang manggut-manggut melihat mereka berdiskusi membanggakan club kesayangannya, itupun terkait orang yang di hadapan Anda adalah seorang fans Barcelona dan Bayern Muenchen. Namun keadaaan berbeda jika Anda berdiskusi dengan fans Manchester United, Liverpool, apalagi Chelsea. Silahkan sajikan guyonan, misalnya, “Louis Van Gaal, sehat?” atau “Ehem, Lukaku!”. Mendengar nama Lukaku saja sudah kebakaran jenggot bagi fans si biru London itu.

Saya sekarang masih garuk-garuk kepala. Apa yang akan saya ceritakan? Apakah akan bercerita tentang kegagalan Arsenal di FA Cup. Mengatakan optimis juara EPL dikala Leicester City menjauh, yang seakan-akan dapat dikejar, katanya dengan hitungan matematis. Menyebutkan satu-per-satu pemain yang cidera. Atau membela salah satu rombongan AKB dan WOB? Atau Barcelona yang berhasil meng....tet!

***

Sebetulnya yang menjadi polemik sekarang ini yaitu Arsene Wenger dan Stan Kroenke. Kalem, maksud saya bukan psywar antara mereka. Tapi itu, lho..yang rutin membuat hastag di belakang nama mereka dengan 3 huruf yang bisa membuat orang-orang pecinta Arsenal adu ketik tajam di media sosial “Out!”.

Ada yang kenal dengan Stan kroenke?

Jelas, dia adalah salah satu pemilik saham Arsenal terbesar kedua yang memiliki 66,83 %. Kalau Alisher Usmanov, pria asal Uzbekistan itu sebanyak 29,96%.  Ini tercatat pada tahun 2013. Pertanyaannya sederhana; mengapa referenshinya harus mengambil pada tahun 2013?

Begini, kita sepakati terlebih dahulu bahwa manusia mempunyai pemikiran dan pendapat yang berbeda. Misalnya, ketika ada masalah A maka timbulah 2 pendapat yaitu pro dan kontra, atau beginilah, yang satu memuji dan yang satunya lagi mencaci.

Di tahun 2013, saya sempat berpikir kemudian mencari informasi yang pasti perihal kepindahan Samir Nasri ke Manchester City. Apakah ia hijrah betul seperti sangkaan sebagian orang karena uang. Padahal, kala itu sejumlah pendukung Arsenal yang di Inggris tiba-tiba mempercayai Nasri dan menyerang club kesayangan mereka sendiri. Sebab, pemain asal Prancis itu pernah mengatakan bahwa ia terpaksa meninggalkan Arsenal karena salah satu pemilik Arsenal, si setan itu, eh si Stan Kroenke itu, ingin mendapatkan uang 21 juta poundsterling atas penjualan dirinya ke City.

Banyak pendukung Arsenal, terutama saya sendiri, menganggap bapak Kroenke ini cenderung mengutamakan keuntungan komersil dari pada beli pemain atau dari pada club berprestasi. Itu kalau menurut saya. Entahlah kalau menurut Anda, mungkin Anda menganggap, Wenger-lah yang selama ini pelit, mungkin.

Membahas pemilik Arsenal, saya sebetulnya sedari dulu sudah heran. Kadang kala ada rasa iri melihat pemilik club lain selalu ikut campur dalam pembelian pemain, seperti misalnya Roman brewok Abramovhic. Ia datang pada tahun 2003 sebagai pemilik Chelsea, terbukti sampai saat ini belio berhasil mengubah club London barat itu. Lha, kok, Stan Kroenke diam-diam saja.

Kalau Anda tau. Dulu, Chelsea itu siapa? Aktor cantik yang main di acara “Tetangga kok Gitu” di net tv, hah, bukan. Lebih bagusan dia.

Okelah, syah-syah saja kita beranggapan kesuksesan Chelsea karena instan. Pembelian pemain dengan dana yang besar menjadi tolok ukur kesuksesannya sampai seperti sekarang ini, maksud saya sampai juara tahun 2015 kemarin. Sekarang? Papan tengah.

Tapi Anda harus paham, lihat bagaimana Abramhovic aktif dalam pembelian pemain pun ketika clubnya bertanding. Ia selalu berdiri sembari tepuk tangan ketika clubnya berhasil memenangkan pertandingan. Bagaimana dengan Kroenke atau Usmanov?

“Saya memang tidak langsung terlibat di Arsenal. Karena jika Anda ingin meraih gelar juara, maka sebagai presiden klub seharusnya Anda tidak pernah terlibat.” Kata Stan, lewat standar.co.uk. (14-03-16).

Ah stan, pernyataan Anda senin kemarin sedikitnya sudah tidak punya rasa tanggung jawab. Mengapa atuh Stan Anda dulu tidak mau menjual saham Anda kepada orang lain? Saya sudah muak melihat club kesayangan saya seperti ini. Kami butuh pemain semacam Ibra Kadabra dan si Hummels!

Konon, wahai rekan-rekan gooner/ettes, apakah Anda sudah tauh?

Dulu, ada sebuah konsorsium asal Timur Tengah yang mengajukan penawaran 21,75 trilliun untuk bisa membeli Arsenal. Konsorsium itu mendapat dukungan dana konglomerat dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Bayangkan, dua negara itu identik dengan minyak, yang mana urusan kekayaan sudah tidak usah di tanyakan lagi.

Konsorsium Timur Tengah itu, usut demi usut sudah mengajak Kroenke untuk bertemu, mengajukan penawaran yang semesta akan memecahkan rekor pembelian terbesar sebuah klub sepakbola. Tapi gobloknya,  Kroenke tidak mau menjual Arsenal dengan alasan sederhana bahwa sepanjang hidupnya ia tidak pernah melepas investasinya di dunia olahraga. Ini agak lebay. Dan alih-alih pak Kroenke juga mempunyai tim Rugby di Amerika Serikat.

Sejatinya, Stan Kroenke tidak begitu populer di kalangan fans Arsenal. Oleh sebab itu, Anda perlu memahami siapa dia agar hidup ini tidak salah paham melulu kepada manager yang jago mengelola duit. Manager yang lebih mementingan clubnya dari pada istrinya—yang mana ia rela cerai, kan. Juga manager yang mungkin kalau ia menangani Real Madrid sudah enak, tapi ia tolak mentah-mentah demi Arsenal. Ini fakta, bukan berarti saya mengajak Anda untuk menssuport Wenger. Sorri, saya juga kerap KZL kepada Wenger.

***

Memang begitulah yang terjadi pada Arsenal dewasa ini. Sederhananya, mungkin jikalau club ingin berprestasi yakni benarkan dulu yang di atasnya kemudian garap yang ada di sekelilingnya. Berdiskusi, saling memberikan pendapat.

Menurut saya, para pemain Arsenal sebetulnya sudah kompak. Anda mungkin pernah membaca berita bagaimana Theo Walcott dan rekan-rekan lainnya, Arteta, Rosicky, berkumpul membicarakan untuk membenahi club.

Juga lihat keharmonisan para pemain di saat latihan. Saya yakin Anda cukup paham mengetahuinya. Dan beruntungnya, club kesayangan kita saat ini tidak pernah mendengar ada perdebatan antara manager dan pemain. Anda lihat club lain, sebagai contoh ketika Diego Costa kesal terhadap Mourinho. Manis di depan, membicarakan di belakang, kasus Ryan Giggs dan Louis Van Gaal, si penulis itu. Kan di Arsenal yang berdebat hanya fansnya, berantem.

Salah satu upaya untuk meluruskannya bukan dengan membuat banner out terhadap si pemilik club atau manager. Agak keren rasanya jika si pemilik saham sudah benar dalam bekerjanya pun demikian dengan sang manager. Dua-dunya harus saling melengkapi, tapi tentu itu sangat sulit.

Sudahlah, sekarang mah marilah kita nikmati saja beberapa sisa pertandingan Arsenal sembari menunggu terpelesetnya Leicester City dan menunggu perayaan Happy St.Totteringhams Day. Bukan begitu yang Anda harapkan?


Stan Kroenke Out! *eh