Menertawakan Liverpool ala Fans Arsenal

Juergen Klopp, satu dari dua pelatih calon pengganti Wenger, selain itu ada nama Pep Guardiola, yang diinginkan oleh fans, bilamana ia pensiun atau mengundurkan diri atau dipecat. Namun sayang, keinginan tersebut tidak mungkin terjadi sebab kedua pelatih itu sudah magang di tim yang, justru menjadi pesaing berat Arsenal di EPL, Manchester City dan Liverpool.
Kecerdasan mantan pelatih Dortmund ini memang luar biasa, datang ke Anfield di pertengahan musim lalu membawakan The Reds ke final Europa League, ya walau kalah tetapi setidaknya cukup sukses berhubung ia cuma memainkan pemain sisa-sisa pelatih absurd itu yang sebelumnya.
Gegenpressing, menjadi strategi ampuh untuk mengalahkan lawan-lawannya. Arsene Wenger, contoh sederhana yang merasakannya pada pekan pertama Premier League musim ini. 3 goal pada babak kedua bersarang di gawang Petr Cech dalam kurun waktu kurang lebih 10 menit, cukup membuat saya sendiri, memberikan tepuk tangan yang meriah.
Tapi uniknya, kemenangan di Emirates Stadium tidak berlanjut ke partai Liverpool berikutnya menghadapi Burnley. Dan ini yang menjadi esensi utama saya ingin menertawakan mereka. Laga baru berjalan 3 menit, Coutinho cs sudah kebobolan terlebih dahulu. Saya kira, pada waktu itu, mereka akan kembali membalikan keadaan seperti halnya melawan The Gunners. Namun, melihat pertandingan tersebut, sebelum peluit babak pertama dibunyikan saya sudah memprediksi, Klopp akan terpleset, akan kalah dan itu terbukti.
Saya ingin menertawakan mereka lebih lanjut, terutama mengenai strategi gegenpressingnya yang gak jalan-jalan amat ketika menghadapi tim gurem macem Burnley dan sejenisnya. Itu terjadi berulang kali, sebelumnya mereka kalah 4 nol pada laga persahabatan melawan Mainz, padahal ketika menghadapi Barcelona, Liverpool menang 4 nol.
Apa sebetulnya yang terjadi pada club peraih tittle Liga Champions terbanyak di Liga Inggris sejak zaman kakek saya ini.
Menurut hemat saya, strategi Klopp banyak kelemahan. Ketika lawan bermain pragmatis, alot, itu, mereka sulit mengembangkan gegenpressingnya. Sehingga permainan terbawa suasana oleh musuh. Berbeda ketika melawan club yang notabennya bermain terbuka dan menyerang, mereka acapkali memenangkan pertandingan.
Saya sebagai fans Arsenal, tentu tidak takut mengatakan bahwa Liverpool club yang masih gitu-gitu saja. Sederhana, berani memprediksi kalau mereka akan menang bilamana melawan club semacam Manchester City atau United. Tetapi ketika menghadapi Watford, Soton, mengerutkan halis dan mengatakan akan kalah, akan saya lakukan.
Jadi imbasnya, kekalahan kemarin oleh Liverpool, tak dapat mengukuhkan hati saya kalau mereka tim hebat. Paling, bertepuk tangan beberapa menit saat mereka menang melawan tim besar akan saya lakukan.
Sebelum menonton pekan ketiga Liga Inggris. Saya akan menertawakan dahulu selama satu pekan ini guna mewakili fans Arsenal lainnya (itupun buat yang mau).
#COYG

Leicester 0 - 0 Arsenal: Berbagi Point yang Pantas

Ibrahim Kante salah satu kunci sukses Leicester City mendapatkan trofi Liga Inggris tahun 2015/2016. Di match awal, club asuhan Claudio Ranieri ini mengalami kekalahan yang cukup menyakitkan oleh Hull City.
Hijrahnya Kante ke Chelsea tahun ini membuat Vardy cs lumayan kesulitan untuk membombardir pertahanan lawan. Pasalnya, melawan Arsenal di gameweek ke-2, lini tengah Leicester betul-betul serasa berbeda, seperti tidak ada roh permainan yang membawa Mahrez dan Vardy bergerak aktif seperti musim lalu. Terlihat, pemain-pemain seperti Granit Xhaka, Coquelin dan Santi dengan mudah menguasai bola di pertandingan tersebut.
Ringkasnya, Mahrez dan kawan-kawan harus bersyukur berbagi angka dengan Arsenal.
Serupa dengan nasib Leicester City, mengalami 1x kekalahan dan imbang, Arsene Wenger, saya rasa perlu mengubah skema permainannya. Kembalinya Mesut Ozil dan Olivier Giroud usai istirahat penuh setelah Euro 2016, ini bisa menjadi gebrakan baru untuk dapat memenangkan pertandingan di laga berikutnya.
Ada sebuah catatan sederhana di match kali ini, duet baru Rob-Holding dan Laurent Koscielny berhasil setidaknya mengawal gempuran Jamie Vardy, mungkin cerita lain lagi jika yang bermain seorang Chambers.
Gameweek ke-2 Arsenal berbagi point dengan Leicester adalah hal yang pantas. Sebab, kedua club bermain begitu relevan. Tempo permainan sedeng, bermain hati-hati dan tidak banyak peluang--padahal para pandit mengira pertandingan ini akan ada banyak goal.
Bolehlah kita mengatakan bahwa minggu kedua pertandingan Arsenal, sia-sia bergadangnya. Ekspektasi yang di inginkan sambil membawa sejarah tak pernah terkalahkan oleh Leicester sejak tahun 1994, pupus sudah dengan hasil berbagi point, yang sekali lagi sia-sia, tetapi untungnya tidak menyebalkan karena kalah, seperti match sebelumnya atas Liverpool.
Arsenal sejauh ini memang terpaksa harus susah payah menghadapi dua tim dengan label club besar. Berbeda dengan nasib tim lainnya, Manchester United, Manchester City dan Chelsea sukses meraup point penuh melawan tim-tim papan tengah/bawah.
Di laga berikutnya, Arsenal akan menjamu Watford, yang minggu kedua ini tumbang oleh Chelsea 1 - 3.
#COYG

Arsenal 3 - 4 Liverpool: Catatan Awal Musim

Ini adalah yang kedua kalinya saya menggelengkan kepala di awal musim melihat Arsenal kalah di Emirates Stadium. Pertama, dipermalukan West Ham 1 - 2 pada tahun lalu, dan minggu kemarin oleh Liverpool.
Gegenpressing, impelementasi yang menarik di suguhkan oleh Juergen Klopp di pertandingan tersebut. Satu-satunya solusi ideal agar tidak berjalan strategi itu adalah bermain long ball.
Pada babak pertama, Arsenal sukses menghindar, Chambers pemain yang kerap menendang bola jauh ketika si bola mendekati kakinya. Namun sialnya, kesuksesan terhindar dari gegenpressingnya The Reds, tidak berbanding lurus dengan free kick Coutinho di akhir babak pertama.
Arsenal 1 - 1 Liverpool.
Menuju babak kedua, Arsenal benar-benar kewalahan, kepercayaan diri para pemain yang awalnya bermain dari kaki ke kaki kemudian di press oleh pemain Liverpool membuat lini tengah yang dihuni Coquelin dan Elneny agak kendor, padahal di babak pertama, Coquelin bermain impressif. 3 goal disarang Petr Cech dalam kurun waktu yang tidak lama. Duet Rob-Holding dan Calum Chambers, walaupun tidak patut disalahkan sepenuhnya tapi nyatanya mereka berbuat banyak kesalahan, terutama Chambers, mantan pemain Soton itu beberapa kali salah memberikan umpan sedangkan Holding tidak begitu waspada menjaga Coutinho, yang datang tiba-tiba di arah belakangnya. Memang, duet pemain kelahiran Inggris itu untuk pertama kalinya di pasangkan di Premier League. Jadi ada semacam belum serasinya mereka di duetkan, walaupun di frendly match pernah, namun kita tau, sensasi match EPL berbeda, apalagi yang di hadapi adalah club sekelas Liverpool.
Apa boleh buat, kekalahan minggu kemarin sangat terpukul bagi Arsene Wenger. Lengkap, ia juga dihadapkan oleh tumbangnya Aaron Ramsey.
Sebuah catatan yang, saya rasa perlu dibenahi untuk beberapa match kemudian.
1. Koscielny
Lumayan sopan. Mempersilahkan duduk kepada Chambers untuk match berikutnya, bukan apa-apa, ke tidak tenangan dia dalam memainkan si kulit bundar membuat para fans (khususnya saya sendiri) agak khawatir. Ia perlu belajar yang namanya kepercayaan diri saat mengoper bola.
Untuk mengawal musuh dan mengikutinya dari belakang, oke-oke saja. Namun saat rekan-rekannya memberikan bola kepada beliau. Saran saya, lebih baik menonton dan berlatih (lagi).
Mengingat bek tengah Arsenal saat ini, tentu yang perlu di garis bawahi adalah absennya Mertesacker dan si bengal Gabriel Paulista.
Alternatif yang baik, memasangkan Rob-Holding dan Koscielny. Silahkan Anda bayangkan, 2 beck dengan postur tinggi, lumayanlah untuk memenangkan bola atas, bukan. Terlebih kedua pemain ini dalam segi pengawalan dan tackle patut di pertimbangkan oleh Wenger ketimbang dia memasang Chambers.
2. Granit Xhaka
Disini, apa cuma saya, yang lebih setuju memainkan Elneny di babak kedua dari pada starter. Sulit rasanya untuk menahan ketawa sinis saat Xhaka baru bermain 6 menit, melakukan beberapa pelanggaran dan satu kartu kuning (mungkin beberapa fans tidak setuju memainkan Xhaka di awal pertandingan, kemudian berani mengatakan, hah pemain "medioker")
Mari kita tengok di friendly match, jika pemain anyar itu dimainkan di awal laga bersama Coquelin, mereka pernah bersamaan, Xhaka bertanggung jawab, ia sering bermain berlama-lama dengan bola, melihat rekan-rekannya yang kosong dan kadang kala, jika pertahanan lawan longgar, ia ngeshoot jarak jauh. Ini justru sebuah keniscayaan bagi pemain Swiss itu. Bilamana di pertandingan pertama melawan Liverpool melakukan banyak pelanggaran, ah itu cuma bawaanya saja, match panas.
3. Santi Cazorla
Ini dia, satu-satunya pemain yang kita rindukan pada tahun lalu. Lepas sembuh dari cideranya, kebangetan jika Wenger tidak memilih dia sebagai starter mengisi post Ramsey yang (kembali) cidera. Dengan adanya Cazorla, menurut saya, kita akan sedikit menuai kepercayaan kepadanya. Bagaimana dia mengatur tempo permainan, menyodorkan bola datar, meliak-liuk ke pertahanan musuh. Pass sekali untuk kita tunggu.
4. Chuba Akpom
Sisi kiri Alexis Sanchez dan sisi kanan Theo Walcott. Tidak ada gunanya sama sekali memainkan pemain Chile itu, apalagi memainkan pemain bernomor 14 sebagai striker. Dua-duanya lebih ngeh berada di sisi permainan--mengandalkan skill individu dan speed.
Olivier Giroud, jika ia masih beristirahat usai Euro 2016. Striker lebih leluasa diberikan kepada Chuba Akpom. Esensinya, ia akan aktif membantu penyerangan dan menjemput bola. Headernya tidak perlu di khawatirkan.
***
Selebihnya tidak ada pemain yang di ubah lagi. Jadi begini kira-kira starting line-up yang saya inginkan.
Petr Cech; Bellerin, Rob-Holding, Koscielny, Monreal; Granit Xhaka, Coquelin, Santi; Alexis Sanchez, Theo Walcott, Chuba Akpom.
Dan semua ini teman-teman, tergantung dari kepekaan Wenger.
#COYG

Tentang Stan Kroenke


Apa yang akan Anda ceritakan pertama kali tentang Arsenal ketika rekan-rekan di sekeliling Anda membahas seputar sepak bola. Alangkah baiknya, jadilah pendengar setia yang manggut-manggut melihat mereka berdiskusi membanggakan club kesayangannya, itupun terkait orang yang di hadapan Anda adalah seorang fans Barcelona dan Bayern Muenchen. Namun keadaaan berbeda jika Anda berdiskusi dengan fans Manchester United, Liverpool, apalagi Chelsea. Silahkan sajikan guyonan, misalnya, “Louis Van Gaal, sehat?” atau “Ehem, Lukaku!”. Mendengar nama Lukaku saja sudah kebakaran jenggot bagi fans si biru London itu.

Saya sekarang masih garuk-garuk kepala. Apa yang akan saya ceritakan? Apakah akan bercerita tentang kegagalan Arsenal di FA Cup. Mengatakan optimis juara EPL dikala Leicester City menjauh, yang seakan-akan dapat dikejar, katanya dengan hitungan matematis. Menyebutkan satu-per-satu pemain yang cidera. Atau membela salah satu rombongan AKB dan WOB? Atau Barcelona yang berhasil meng....tet!

***

Sebetulnya yang menjadi polemik sekarang ini yaitu Arsene Wenger dan Stan Kroenke. Kalem, maksud saya bukan psywar antara mereka. Tapi itu, lho..yang rutin membuat hastag di belakang nama mereka dengan 3 huruf yang bisa membuat orang-orang pecinta Arsenal adu ketik tajam di media sosial “Out!”.

Ada yang kenal dengan Stan kroenke?

Jelas, dia adalah salah satu pemilik saham Arsenal terbesar kedua yang memiliki 66,83 %. Kalau Alisher Usmanov, pria asal Uzbekistan itu sebanyak 29,96%.  Ini tercatat pada tahun 2013. Pertanyaannya sederhana; mengapa referenshinya harus mengambil pada tahun 2013?

Begini, kita sepakati terlebih dahulu bahwa manusia mempunyai pemikiran dan pendapat yang berbeda. Misalnya, ketika ada masalah A maka timbulah 2 pendapat yaitu pro dan kontra, atau beginilah, yang satu memuji dan yang satunya lagi mencaci.

Di tahun 2013, saya sempat berpikir kemudian mencari informasi yang pasti perihal kepindahan Samir Nasri ke Manchester City. Apakah ia hijrah betul seperti sangkaan sebagian orang karena uang. Padahal, kala itu sejumlah pendukung Arsenal yang di Inggris tiba-tiba mempercayai Nasri dan menyerang club kesayangan mereka sendiri. Sebab, pemain asal Prancis itu pernah mengatakan bahwa ia terpaksa meninggalkan Arsenal karena salah satu pemilik Arsenal, si setan itu, eh si Stan Kroenke itu, ingin mendapatkan uang 21 juta poundsterling atas penjualan dirinya ke City.

Banyak pendukung Arsenal, terutama saya sendiri, menganggap bapak Kroenke ini cenderung mengutamakan keuntungan komersil dari pada beli pemain atau dari pada club berprestasi. Itu kalau menurut saya. Entahlah kalau menurut Anda, mungkin Anda menganggap, Wenger-lah yang selama ini pelit, mungkin.

Membahas pemilik Arsenal, saya sebetulnya sedari dulu sudah heran. Kadang kala ada rasa iri melihat pemilik club lain selalu ikut campur dalam pembelian pemain, seperti misalnya Roman brewok Abramovhic. Ia datang pada tahun 2003 sebagai pemilik Chelsea, terbukti sampai saat ini belio berhasil mengubah club London barat itu. Lha, kok, Stan Kroenke diam-diam saja.

Kalau Anda tau. Dulu, Chelsea itu siapa? Aktor cantik yang main di acara “Tetangga kok Gitu” di net tv, hah, bukan. Lebih bagusan dia.

Okelah, syah-syah saja kita beranggapan kesuksesan Chelsea karena instan. Pembelian pemain dengan dana yang besar menjadi tolok ukur kesuksesannya sampai seperti sekarang ini, maksud saya sampai juara tahun 2015 kemarin. Sekarang? Papan tengah.

Tapi Anda harus paham, lihat bagaimana Abramhovic aktif dalam pembelian pemain pun ketika clubnya bertanding. Ia selalu berdiri sembari tepuk tangan ketika clubnya berhasil memenangkan pertandingan. Bagaimana dengan Kroenke atau Usmanov?

“Saya memang tidak langsung terlibat di Arsenal. Karena jika Anda ingin meraih gelar juara, maka sebagai presiden klub seharusnya Anda tidak pernah terlibat.” Kata Stan, lewat standar.co.uk. (14-03-16).

Ah stan, pernyataan Anda senin kemarin sedikitnya sudah tidak punya rasa tanggung jawab. Mengapa atuh Stan Anda dulu tidak mau menjual saham Anda kepada orang lain? Saya sudah muak melihat club kesayangan saya seperti ini. Kami butuh pemain semacam Ibra Kadabra dan si Hummels!

Konon, wahai rekan-rekan gooner/ettes, apakah Anda sudah tauh?

Dulu, ada sebuah konsorsium asal Timur Tengah yang mengajukan penawaran 21,75 trilliun untuk bisa membeli Arsenal. Konsorsium itu mendapat dukungan dana konglomerat dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Bayangkan, dua negara itu identik dengan minyak, yang mana urusan kekayaan sudah tidak usah di tanyakan lagi.

Konsorsium Timur Tengah itu, usut demi usut sudah mengajak Kroenke untuk bertemu, mengajukan penawaran yang semesta akan memecahkan rekor pembelian terbesar sebuah klub sepakbola. Tapi gobloknya,  Kroenke tidak mau menjual Arsenal dengan alasan sederhana bahwa sepanjang hidupnya ia tidak pernah melepas investasinya di dunia olahraga. Ini agak lebay. Dan alih-alih pak Kroenke juga mempunyai tim Rugby di Amerika Serikat.

Sejatinya, Stan Kroenke tidak begitu populer di kalangan fans Arsenal. Oleh sebab itu, Anda perlu memahami siapa dia agar hidup ini tidak salah paham melulu kepada manager yang jago mengelola duit. Manager yang lebih mementingan clubnya dari pada istrinya—yang mana ia rela cerai, kan. Juga manager yang mungkin kalau ia menangani Real Madrid sudah enak, tapi ia tolak mentah-mentah demi Arsenal. Ini fakta, bukan berarti saya mengajak Anda untuk menssuport Wenger. Sorri, saya juga kerap KZL kepada Wenger.

***

Memang begitulah yang terjadi pada Arsenal dewasa ini. Sederhananya, mungkin jikalau club ingin berprestasi yakni benarkan dulu yang di atasnya kemudian garap yang ada di sekelilingnya. Berdiskusi, saling memberikan pendapat.

Menurut saya, para pemain Arsenal sebetulnya sudah kompak. Anda mungkin pernah membaca berita bagaimana Theo Walcott dan rekan-rekan lainnya, Arteta, Rosicky, berkumpul membicarakan untuk membenahi club.

Juga lihat keharmonisan para pemain di saat latihan. Saya yakin Anda cukup paham mengetahuinya. Dan beruntungnya, club kesayangan kita saat ini tidak pernah mendengar ada perdebatan antara manager dan pemain. Anda lihat club lain, sebagai contoh ketika Diego Costa kesal terhadap Mourinho. Manis di depan, membicarakan di belakang, kasus Ryan Giggs dan Louis Van Gaal, si penulis itu. Kan di Arsenal yang berdebat hanya fansnya, berantem.

Salah satu upaya untuk meluruskannya bukan dengan membuat banner out terhadap si pemilik club atau manager. Agak keren rasanya jika si pemilik saham sudah benar dalam bekerjanya pun demikian dengan sang manager. Dua-dunya harus saling melengkapi, tapi tentu itu sangat sulit.

Sudahlah, sekarang mah marilah kita nikmati saja beberapa sisa pertandingan Arsenal sembari menunggu terpelesetnya Leicester City dan menunggu perayaan Happy St.Totteringhams Day. Bukan begitu yang Anda harapkan?


Stan Kroenke Out! *eh

Mengenal Jeff Reine-Adelaide

Jeff Reine Adelaide vs Wolfsbrugh
Arsenal resmi merilis nama-nama pemain yang masuk ke dalam squad UCL tahun 2015/2016. Salah satu pemain yang saya kagumi adalah Jeff Reine-Adelaide. Pemain berkebangsaan Prancis itu masuk dalam daftar tim A yang berisi 25 nama. The Gunners juga memasukan 7 nama pemain muda dalam daftar tim B.

 Jeff Reine-Adelaide

 “Reine Adelaide is something spesial you know” Arsene Wenger (25/07/15)

 Begitulah sanjungan manager berkebangsaan Prancis itu untuk pemain barunya yang di kutip melalui situs resmi club. Jeff  lahir dari kota Champigny Sur Marine, France, pada tanggal 17 January 1998. RC Lens adalah club pertama yang di belanya dan ia baru tampil 5 kali. Arsenal berhasil menuntaskan transfer pemain muda itu pada bulan July 2015 dengan mahar 3 juta pounds plus Yassine Fortune (Daily Mail).

 Debut pertama pemain bernomor punggung 54 itu tepatnya pada ajang pramusim ketika Arsenal melawan Lyon. Bermain menggantikan Chamberlain pada menit ke 72 dan berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 6-0. Namun, debut yang paling manis adalah ketika melawan Wolfsbrugh. Ia bermain sebagai starter dan memberikan 1 assist terhadap Theo Walcott. Lantas Arsene Wenger memberikan pujian yang spesial untuknya. “Reine Adelaide adalah pemain yang istimewa seperti yang Anda tau.” Ujarnya. “Dia adalah bakat besar dan ketika ia datang Anda bisa melihat bahwa ia masih berumur 17 tahun, jangan lupakan itu. Bahkan saya tidak ingat bagaimana saya bermain saat masih 17 tahun, tapi saya tidak bermain seperti itu.” Lanjutnya (26/07/15)

Menyoal Posisi Attacking Midfielder

 Beberapa media memberikan informasi yang aneh dan berbeda-beda. Ada yang menyebutkan Reine seorang striker, playmaker, dan lain-lain. Menilik karakter bermainnya ketika di debut kedua bersama Arsenal, ia bisa di katakan pemain yang tipikal bermainnya adalah AMF; atau gelandang serang. Mungkin tidak jauh seperti seniormya Jack Wilshere, yang sedang mengalami masa-masa santai di RS. Kedua pemain ini mempunyai daya jelajah yang tinggi dan akurasi umpan yang baik. Tidak heran jika suatu saat mereka akan selalu di berikan kepercayaan oleh Wenger, mengingat usianya yang masih sangat muda.

 Membicarakan posisi AMF, itu adalah salah satu posisi yang sangat strategis. Sebab jika di gambarkan si pemain harus mampu menjadi inspirator dalam serangan tim. Posisi ini juga seharusnya si pemain tidak boleh canggung untuk mencetak gol dan mencoba masuk ke dalam area kotak penalti. Mungkin Anda bisa membayangkan bagaimana cara bermain Jack ketika ia berada di lapangan.

 Juga standar. Posisi attacking midfielder rata-rata suka di minta untuk selalu mencari ruang dan mensupport serangan. Jika di beri support, maka si pemain akan mundur untuk menjemput bola. Nantinya, ketika defence lawan kuat, ada saatnya melakukan tendangan jarak jauh. Ketika lemah, bisa saja menyodorkan bola datar atau lambung ke posisi target men. Dan posisi ini berlaku untuk Jeff Reine-Adelaide. Coba Anda lihat lagi bagaimana ia memberikan 1 assist terhadap Theo Walcott saat melawan Wolfsbrugh.

 Kembali, Jack dan Jeff saya rasa mempunyai 3 attribut kunci yakni first touch, technique dan creativity. Hmm saya sedang membayangkan jika dua-duanya bermain bersama. Mungkin itu bisa terjadi beberapa tahun yang akan datang.

Beberapa Pujian

 Pertama dari Olivier Giroud. Selaku sesama orang Prancis, striker bernomor punggung 12 itu mempunyai keyakinan bahwa Jeff Reine-Adelaide akan sukses bersama Arsenal. Bukan hanya itu, Oli , nama panggilan Giroud, memuji mental bertanding juniornya tersebut. “Saya pikir dia akan benar-benar baik di masa depannya dan sudah cukup matang di usianya karena dia mempunyai mental bertanding yang baik, ia telah dapat meningkatkan kualitasnya dengan cepat” Ujarnya, seperti yang di kutip dari situs resmi club.

 Tidak hanya itu, seseorang yang pernah di berikan sodoran bola datar oleh Adelaide juga memuji. Theo Walcott mendukung Jeff untuk mengembangkan bakat besarnya di Arsenal. “Dia yakin pada bola. Ia mempunya sentuhan di sepertiga akhir yang sangat baik. Begitupun juga fisiknya, itu menyenangkan bagiku. Dan dia juga masih berusia 17 tahun” Pungkasnya, melalui situs FourFourTwo (30/07/15)

Jeff Generasi Arsenal Berikutnya

 Salah satu hal yang patut di banggakan dari Arsenal--selaku fans yaitu mengagumi pemain-pemain mudanya. Untuk sekarang melihat Jeff yaaa.. paling saat informasi starting, nama dia ada di bench. Begitu di beri kesempatan bermain, mentok-mentok ketika waktu sisa 10 menit. Paling yang bisa ia rasakan sekarang adalah berlatih dengan tim dan menonton seniornya bermain

***


 Kemudian ucap selamat ulang tahun untuk Jeff yang ke-18. Mungkin doanya mudah-mudahan Wenger nanti menulis nama Jeff  Reine-Adelaide di starting, ya agar seperti pemain asal Costa Rika itu yang sekarang sedang on fire. Sebab bagaimanapun juga anak muda perlu pengalaman bermain di awal laga. Toh, yang sudah tua saja kemarin-kemarin bermain dengan yang muda. Iya, Mikel? *Sebagian teks hilang*.

Terimakasih Petr Cech

 Dengan adanya sosok Petr Cech disetiap pertandingan selalu ada rasa dimana lisan berucap "tenang". Pria berkebangsaan Ceko ini pemimpin bagi pertahanan. Tak lupa dengan kelebihannya yakni bisa menguasai 5 bahasa menjadi modal penting untuk berkomunikasi dengan bek Arsenal yang dari berbagai negara, ia pernah mengatakan "Vamoos!!" untuk Hector Bellerin ketika melakukan kesalahan. "Come on!!" untuk Chambers. Dan itu terdengar beberapa pekan yang lalu saat tertahan imbang oleh Liverpool.

 "Dia akan mengamankan 12 dan 15 point untuk Arsenal dalam semusim" Ujar John Terry, pemain Chelsea, dilansir dari TalkSport. Ucapan mantan rekan setimnya tersebut terbukti, ia telah menyelamatkan beberapa point penting dilaga-laga Arsenal sebelumnya.

 Bisa dikatakan hingga saat ini pemain bernomor punggung 33 itu adalah aset berharga bagi tim. Ada istilah "Pengalaman adalah guru terbaik." Setidaknya, mudah-mudahan dengan pengalaman ia yang telah menjuarai BPL dan UCL dapat menular bagi club barunya, Arsenal.

 Sejatinya, Kehadiran dia untuk bekerja sama dengan Arsene Wenger memiliki beberapa manfaat besar. Berikut penulis akan jabarkan:

1. Membantu Mengembangkan Kiper-Kiper Arsenal.

 "Dia dapat membantu mengembangkan kiper-kiper kami, yang memiliki talenta hebat" Ucap Wenger (24-07-15). Dalam squad Arsenal ada nama-nama kiper seperti David Ospina, Martinez, Szczesny dan Macey. Inilah yang dimaksud Arsene Wenger agar Petr Cech dapat memberikan perkembangan bagi mereka.

2. Membawa Ketenangan

 "Dia membawa ketenangan dalam caranya merespon situasi. Ini akan membantu mengangkat level bek-bek kami." (27-07-15)

3. Memberikan Rasa Percaya Diri

 "Petr Cech memberikan kami rasa percaya diri yang luar biasa" Mertesacker (03-08-15)

4. Angkat Prestasti Arsenal

"Dengan kedatangan Petr Cech, kami bisa memperbaiki catatan yang sudah kami buat sebelumnya dan dapat memberikan prestasi yang besar bagi tim." Oxlade Chamberlain pada Reporter (03-08-15)

5. Motivator

 "Saya senang berlatih dengannya, ia selalu berbicara dengan saya dan membantu saya meningkatkan penampilan, dan itu berguna. Di sesi latihan ia terus membantu saya. Selalu terasa hebat jika anda memiliki seseorang yang bisa membuat anda lebih hebat" Chambers (26-08-15)


 Dan masih banyak lagi manfaat besar atas kedatangannya. Sebagai fans, melihat club yang dicintai mempunyai kiper kelas dunia itu suatu kebahagiaan tersendiri.

 Apresiasi untuk dia adalah pada bulan september telah menorehkan sejarah baru yaitu menjadi kiper Rep.Ceko pertama kali yang bermain lebih dari 10.000 menit. Catatan ini mengalahkan Karel Poborsky (Kiper Ceko, Kompatriotnya).

Dan tentunya satu hal yang ditunggu-tunggu adalah tentang Cleansheetnya di BPL .Sekarang ia sudah mencapai 168 Cleansheet dan butuh 2 lagi untuk memecahkan rekor David James dengan jumlah 169.

 Selamat Petr dan terimaksih!

Mengapa Harus Bereksperimen Wenger?

Wenger vs Olympiacos
 Mengumpulkan point 0 dari 2 pertandingan Liga Champions adalah hasil yang sangat buruk. Perihal lawan selanjutnya yakni Bayern Munich yang sedang memimpin di Grup F dengan koleksi 6 points, sedangkan Zagreb dan Olympiacos sudah mendapatkan 3 points. Kendati demikian, Arsenal wajib memenangkan sisa-sisa pertandingan tersebut agar lolos ke babak 16 besar. Itung-itungan saja, jika kalah (lagi) kemungkinan pasukan Arsene Wenger bisa saja tersingkir dari ajang ini. Namun, pria berkebangsaan prancis itu belum menyatakan mundur dalam kompetisi. “Kami harus tetap berpikir bahwa kami masih mampu bersaing dengan Zagreb dan Olympiacos dan belum keluar dari kompetisi ini," Pungkasnya seperti yang dikutip dari situs resmi klub"

  Begitulah Wenger yang hobinya bereksperimen. Sedikit teori, kata "eksperimen" berasal dari bahasa latin "eksperimentum" yang memiliki arti "percobaan, pengujian, bukti". Ketika laga pertama melawan Dinamo Zagreb, The Professor, nama julukan Arsene Wenger, memberikan kepercayaan kepada Mathieu Debuchy untuk mengisi posisi sebelah kanan pertahanannya. Padahal, pertandingan sebelumnya dia memasang Hector Bellerin ketika timnya berhasil mengalahkan Stoke City di gameweek ke 5 Liga Inggris. Arsenal tunduk dikandang Zagreb dengan skor 2 – 1, salah satu dari dua gol Zagreb dicetak oleh Josip Pivaric pada menit ke 24, dan Anda tau? gol tersebut berawal dari kesalahan Debuchy yang entah kemana saat itu. Satu pertanyaan: Bukankah memasang pemain bernomor 2 tersebut sebuah eksperimen dari Wenger? Ya, Sebuah percobaan yang fatal.

  Menilik match kedua Liga Champions, Arsenal bertemu dengan Olympiacos. Club asuhan Marco Silva itu berhasil memetik 3 point dari Eimartes Stadium, nama stadion Arsenal. Patut di syukuri, Club berjuluk The Gunners itu tidak memainkan Debuchy lagi. Wenger menyimpan pemain berkebangsaan Prancis itu di bangku cadangan. Namun, mengapa bisa kalah? Ya, Semua mata tersorot kepada David Ospina yang melakukan blunder. Terkadang penulis heran, mengapa tidak memainkan Petr Cech? toh, dia, kan, pengalaman dalam ajang liga Champions ini. Mungkin alasan Wenger tidak memainkannya adalah takutnya Cech kecapean. Atau efektifnya untuk membagi waktu bermain kepada kedua kipernya. Namun, dalam kekalahannya, Arsene Wenger tidak menyalahkan kiper berkebangsaan Columbia tersebut. "Menyalahkan orang itu perkara mudah. Ospina bermain di 19 laga musim lalu, bisa 14 kali clean sheets," Ucapnya (30/09/15). "Minggu lalu, di Tottenham, ia menjalani laga yang fantastis. Tak ada kiper yang tak membuat kesalahan, Petr Cech juga bisa melakukan kesalahan. Semua itu bagian dari pekerjaan," tandasnya, dikutip dari situs FourFourTwo.
 Sebetulnya dalam bereksperimen boleh-boleh saja. Ketika dalam satu tim ada yang cidera, pelatih pasti akan segera memikirkan starting line up yang baru. Tapi sayangnya, bagi Arsene Wenger selalu bernasib sial. Tapi tidak selamnya sial, bereksperimen itu sifatnya relatif. Kadang sukses, kadang gagal.

  Usut demi usut, Wenger memberikan pernyataan tentang mengapa dia rajin bereksperimen atau merotasi anak asuhnya. "Kami tak bisa memilih tim dengan membuat poling terlebih dulu sebelum laga dan mendapatkan pendapat dari semua orang" Ucapnya. "Kami memainkan banyak laga. Karena itulah kami melakukan rotasi, tim lain juga melakukannya. Anda tak bisa bermain tiap tiga hari sekali tanpa merotasi pemain Anda. Itu adalah faktanya dan Anda harus menerimanya," tandasnya dikutip dari situs FourFourTwo (30/09/15)

  Terkait kekalahan Arsenal tersebut, Olympiacos untuk pertama kalinya memenangkan pertandingan dalam 12 kali kunjungannya ke Inggris dan menjadi tim Yunani pertama yang mencetak 3 gol di dataran Inggris. Selamat!

  Untuk Wenger, silahkan saja bereksperimen sesuai keinginanmu, toh anda kan Manager. Dan satu catatanya: ASAL BEREKSPERIMENNYA BENER!

Penulis: Akun @aaridwan16