Padahal lebih sakit kalah 1 – 0 dengan pertandingan tanpa masalah pluss lawan dapat trofi dari pada kalah 2 – 0, point mah tetep 3 dan wasit justru bukan seorang pengadil lapangan. Nonton? “kalah ya kalah aja” Celetoh fans Chelsea lewat akun twitter pribadinya. Arsenal emang kalah, terus klasemen tim kesayangan kami di bawah Chelsea gitu?
Adalah ketidak seimbangan antara Koscielny dan Gabriel. Duel udara dan cara intercept merekalah yang bisa dikatakan baik. Tapi, siapa yang lebih dewasa? Ketika si botak mengeluarkan kartu merah kepada pemain berkebangsaan Brazil itu, seolah-olah permainanpun tidak “ngeh”.
Begitulah, seandainya Mertesacker bermain mungkin beda cerita dimana kedua bek akan sama-sama dewasa. Dan si striker biru yang berumur 34 tahun itu bisa saja dikartu merah ((34)). Bukan Gabriel ataupun yang nyakar leher orang, yang salah adalah wasit tidak bisa tegas dalam mengambil keputusan. Biarkan opini ini ada.
2x kalah dalam 1 minggu
Bukan sebuah rekayasa tumbang dari kandang Zagreb dan Chelsea. Memang, ini suatu pukulan yang nyata bagi Arsene Wenger dan fans. Mungkin kekalahan dari Zagreb bisa disebut bukan faktor keberuntungan dan kalah oleh pasukan Jose Mourinho faktor kepicikan. Ah sudahlah, pekan itu amat bad bagi Arsenal. Ditambah 3 pemain dalam 2 match dikartu merah. Oli, Gabriel dan Santi harus ikhlas tidak bisa bermain dalam pertandingan selanjutnya.
Kesabaran diuji (lagi) ketika Coquelin mengalami cidera pada lututnya. Sang Destroyer itu juga sama, harus absen dalam match selanjutnya.
Dapat disimpulkan bahwa bukankah ini suatu ujian? Ketika Mike Dean pura-pura buta dan provokasi dari Costa yang mengakibatkan Gabriel emosi. “Sabar” Ucap penulis dalam hati.
White Hart Line, King Power Stadium.
Dari 2x kekalahan tersebut selalu saja dapat respon yang baik dari Wenger. Bukan 1,2 atau 3x mengatakan “bangkit” seusai Clubnya kalah. Bahkan setelah menelan pahit di Stampord Bridge, pria berkebangsaan Prancis itu mengatakan seperti ini. “Kami frustasi dari semua situasi ini. Kami ingin kembali ke jalur kemenangan” Pungkasnya dikutip dari situs resmi Club. (23/09/15)
Notabennya, Wenger bukanlah tipe Manager yang tidak sehat. Syah-syah saja mengadu ke FA problem Costa dan Gabriel, ingat juga dia bukan seorang pengadu, apalagi pengeluh. Bukankan Manager yang tidak sehat itu adalah yang beraninya hanya dikonferensi pers?
Kalimat “kami ingin kembali ke jalur kemenangan” terbukti setelah White Hart Line, kandang Spurs, bubuk oleh pasukan Arsene Wenger dari kaki seorang Mathieu Flamini atas terciptanya 2 gol, yang berkesudahan 1 - 2 di ajang Capital One Cup. Dikutip dari Arsenal Player pemain yang sudah tidak muda lagi itu memberikan komentar setelah selesai pertandingan. “2 Goal ini untuk para fans. Mereka selalu mendukung dan berada di belakang saya” (24/09/15). Nah, jadi disini ada yang mencintai flamini?
King Power Stadium, nama stadion Leicester. Sejatinya, Club asuhan Claudio Ranieri itu dalam 6 pertandingan belum terkalahkan. Namun sayang, 5 goal yang bersarang di gawang Schmeidel cukup menghentikan Unbeatennya saat ini. 2 bek yang bernama Morgan dan Huth kacau balau oleh tendangan dan header Alexis Sanchez yang hattrick kala itu. Ah sudahlah, pekan itu amat “enak” bagi Arsenal. Semua kemenangan itu tidak luput dari kesabaran Manager, pemain dan yang lainnya.
Eksperimen
Terkadang blunder, terkadang sukses. Itulah starting Line Up yang dipakai Wenger ketika niatnya ingin bereksperimen. Debuchy dan Flamini, contohnya. Seolah-olah pesimis dengan kedua pemain itu, tapi endingnya menang. Ketika percaya dengan squad, ada Ozil, Cazorla, Ramsey dan Coquelin, eh, kalah. Eksperimen sifatnya relatife. Jadi, apapun yang dilakukan Wenger ketika bereksperimen, terserah, toh dia kan Manager.
Mengalami mood yang bagus dan buruk.
Penyakit Arsenal adalah konsistensi. Pasti! Semua yang bersangkutan dengan Arsenal sedang mengalami mood yang buruk ketika Olympiacos berhasil mencuri 3 points di Emirates Stadium. Tapi nanti mood akan terasa bagus, terasa bahagia, jika Arsenal berhasil mengalahkan duo Club yang berjersey merah, yakni Manchester United dan Bayern Munich. Ya, Hidup memang harus optimis. Semoga terealisasi!
***
Untuk Flamini, terimakasih Flam atas kesabaranmu. Tidak ada satu pemain didunia ini yang hidupnya hanya ingin menghiasi bangku cadangan. Petr Cech, contohnya. Hijrah dari Club medioker ke Club berkualitas tujuannya adalah berada di tim inti.
Untuk Sanchez, terimaksih El Nino Maravilla atas Hattricknya dan kesabaran ketika orang-orang bertanya “Ada apa dengan Alexis?”
***
Sensitifnya, sifat sabar selalu merasuk kedalam jiwa fans Arsenal. Dari mulai sabar menunggu gelar BPL sampai sabar menjuarai UCL. Kapan ya? Namun, percayalah dengan kesabaran segala sesuatu endingnya akan indah. Bukankan setelah kesulitan akan ada kemudahan. Toh, sabar juga kan disayang Tuhan. Bukan begitu?
Penulis: Akun @aaridwan16